Loading...

Jumat, 24 Agustus 2012

PROSA FIKSI - DONGENG

A. Pengertian Dongeng
Berbagai cara dapat dilakukan untuk menyampaikan pesan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pesan disampaikan secara langsung melalui percakapan antara penyampai pesan dengan pihak yang menjadi sasaran pesan tersebut. Pesan dapat juga disampaikan secara tidak langsung melalui metode khusus, seperti lagu, komik maupun dongeng.
Menurut Jasmin Hana (2011: 14), dongeng berarti cerita rekaan, tidak nyata, atau fiksi, seperti fabel (binatang dan benda mati), saga (cerita petualangan), hikayat (cerita rakyat), legenda (asal usul), mythe (dewa-dewi, peri, roh halus), epos (cerita besar seperti Mahabharata dan Ramayana).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dongeng adalah cerita sederhana yang tidak benar-benar terjadi.

Dongeng berfungsi menyampaikan ajaran moral dan juga menghibur. Dongeng termasuk cerita tradisional. Cerita tradisional adalah cerita yang disampaikan secara turun temurun. Suatu cerita tradisional dapat disebarkan secara luas ke berbagai tempat. Kemudian, cerita itu disesuaikan dengan kondisi daerah setempat. (http://www.scribd .com/doc/29361106/Definisi-Dongeng)

Sementara itu, dalam Al-Quran kisah-kisah teladan pun bertebaran. Bahkan, sebagian isi Al-Quran berupa kisah. Kisah kepahlawanan dan kisah penuh motivasi lainnya, tak kurang-kurangnya diurai dalam Al-Quran, hadist, dan sumber lainnya (Roohimah M. Noor, 2011: 56).

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan, bahwa dongeng adalah hasil karya berdasarkan rekayasa imajinatif, cerita rekaan, tidak nyata, tidak benar-benar terjadi namun mempunyai pesan moral dibalik kisah yang diceritakan.

B. Unsur-unsur Dongeng
Menurut Kak Andi Yudha (dalam Jasmin Hana, 2011 :43-46) dalam sebuah dongeng terdapat unsur-unsur penting yang meliputi alur, tokoh, latar, dan tema. Dongeng yang bermutu memiliki perkembangan yang memadai pada keempat unsur tersebut. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut :
  1. Alur adalah konstruksi mengenai sebuah deretan peristiwa secara logis dan kronologis saling berkaitan yang dialami oleh pelaku.
  2. Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami berbagai peristiwa di dalam dongeng.
  3. Latar adalah unsur cerita yang menunjukkan dimana dan kapan kejadian-kejadian di dalam dongeng.
  4. Tema adalah makna yang terkandung di dalam sebuah dongeng.
Keempat unsur penting diatas merupakan kunci ketertarikan audience pada suatu dongeng

C. Jenis-jenis Dongeng
Cerita dalam sebuah dongeng dapat mempengaruhi minat anak untuk membacanya, karena setiap anak mempunyai selera yang berbeda-beda dalam diri mereka.
Poerdarminto (dalam Eka Ratnawati, 2010: 17-18) membedakan dongeng menjadi 5 macam dilihat dari isinya. Kelima macam dongeng tersebut, yaitu :
  1. Dongeng yang lucu
    “Menimbulkan tertawa” jadi dongeng yang lucu adalah cerita yang berisikan kejadian lucu yang terjadi pada masa lalu. Cerita dalam dongeng lucu dibuat untuk menyenangkan atau membuat tertawa pendengar atau pembaca.
  2. Fabel

  1. “Cerita pendek berupa dongeng, mengambarkan watak dan budi manusia yang diibaratkan pada binatang”.
    Fabel digunakan untuk pendidikan moral, dan kebanyakan fabel menggunakan tokoh-tokoh binatang, namun tidak selalu demikian. Disamping fabel menggunakan tokoh binatang ada yang menggunakan benda mati.
    Jadi fabel merupakan cerita pendek atau dongeng yang memberikan pendidikan moral yang menggunakan binatang sebagai tokohnya.
  2. Legenda
    “Cerita dari zaman dahulu yang bertalian dengan peristiwa-peristiwa sejarah”. Menurut sarikata Bahasa Indonesia (2007: 21) legenda adalah: “Cerita yang isinya tentang asal-usul suatu daerah”.
    Legenda baik sekali digunakan untuk pendidikan di kelas-kelas rendah Sekolah Dasar untuk mengajarkan konsep-konsep.
    Jadi legenda merupakan cerita dari zaman dahulu yang merupakan kejadian-kejadian yang berhubungan dengan suatu tempat atau peristiwa yang baik digunakan dalam pendidikan dasar.
  3. Sage
    “Cerita yang mendasar peristiwa sejarah yang telah bercampur dengan fantasi rakyat”, sedangkan menurut sari kata Bahasa Indonesia (2007: 20) sage yaitu dongeng yang mengandung unsur sejarah.
    Jadi dapat disimpulkan bahwa sage merupakan cerita dongeng yang berhubungan dengan peristiwa atau sejarah.
  4. Mite
    “Cerita yang berhubungan dengan kepercayaan masyarakat yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya”.
    Sedangkan menurut Sarikata Bahasa Indonesia (2007: 20) mite didefinisikan sebagai: “dongeng yang berhubungan dengan kepercayaan masyarakat”.
    Jadi mite merupakan cerita tentang kepercayaan suatu masyarakat yang diyakini oleh masyarakat tetapi tidak dapat dibuktikan kebenarannya
Mungkin anda heran mengapa dongeng dijadikan sebagai metode pembelajaran?
Dari latar belakang yang diuraikan diketahui bahwa kelas yang menjadi subjek penelitian adalah kelas I dimana kemampuan bicara siswa masih dalam taraf perkembangan. Oleh karena itu, Brama selaku peneliti tertarik untuk menerapkan dongeng sebagai metode pembelajaran, karena peneliti berasumsi bahwa dengan dongeng kemampuan bicara siswa akan meningkat.
Asumsi tersebut tentunya bukan hanya prediksi belaka namun dikuatkan oleh pandangan Abdul Aziz Abdul Majid (dalam Eka Ratnawati 2010: 4) yang mengatakan bahwa dongeng dapat meningkatkan kemampuan berbicara pada anak.
Dalam penelitiannya, peneliti menggunakan fabel atau dongeng binatang. Adapun alasannya menggunakan fabel dalam pembelajaran adalah:
  1. Tokoh-tokoh dalam dongeng yang berupa binatang sangat menarik bagi anak;
  2. Lewat tokoh binatang dapat memberikan pendidikan anak;
  3. Anak akan memiliki rasa sayang pada binatang;
  4. Setelah besar anak akan memiliki kesadaran untuk menjaga dan melestarikan alam lingkungannya, khususnya alam fauna;
  5. Anak menyenangi hal-hal yang fantastik/ ajaib misalnya binatang yang bertingkahlaku mirip manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar